KONSERVASI
ARSITEKTUR
JAWA
BARAT (MUSEUM WAYANG)
Konservasi
secara umum diartikan pelestarian namun demikian dalam khasanah para pakar
konservasi ternyata memiliki serangkaian pengertian yang berbeda-beda
implikasinya. Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan
dalam sebagai berikut :
1.
Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia
dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).
2.
Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal
secara sosial (Randall, 1982).
3.
Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup
termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang
meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian,
administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).
4.
Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat
memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi
yang akan datang (WCS, 1980).
·
Kategori Obyek
konservasi sebagai berikut :
1.
Obyek keagamaan berupa peninggalan arsitektur atau karya yang bernilai
keagamaan.
2.
Bangunan atau bentuk struktur yang telah dipindahkan dari lokasi eksisting yang
memiliki nilai signufican dalam arsitektur atau bentuk struktur yang masih
bertahan terkait dalam peristiwa sejarah tokoh tertentu.
3.
Rumah, kantor atau ruang aktivitas atau makam tokoh terkenal dalam sejarah,
dengan catatan tidak ada tempat atau bangunan lain yang terkait dengan riwayat
hidupnya.
4.
Bangunan pada masa tertentu yang memiliki keunikan desain, gaya atau berkaitan
dengan peristiwa sejarah tertentu.
5.
Bangunan hasil rekonstruksi an merupakan satu-satunya bangunan yang dapat
diselamatkan.
6.
Obyek berusia 50 tahun yang memberi nilai yang cukup significan atau
pengecualian yang dianggap penting.
Salah
satu bangunan di DKI Jakarta yang merupakan salah satu bangunan dalam kategori
konservasi yaitu :
MUSEUM WAYANG
Terletak
di Jalan Pintu Besar Utara No.27, Pinangsia, Jakarta Barat 11110, gedung yang
tampak unik dan menarik ini telah beberapa kali mengalami perombakan. Pada awalnya bangunan ini bernama De
Oude Hollandsche Kerk ("Gereja Lama Belanda") dan dibangun
pertamakali pada tahun 1640. Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama De
Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda) hingga tahun 1808 akibat hancur oleh gempa bumi pada tahun
yang sama. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung museum wayang
dan diresmikan pemakaiannya sebagai museum pada 13 Agustus 1975. Meskipun telah dipugar beberapa bagian gereja lama dan
baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini.
Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan
bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit
maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini,
misalnya dari Republik
Rakyat Tiongkok dan Kamboja. Hingga kini Museum Wayang mengkoleksi lebih
dari 4.000 buah wayang, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan. Umumnya boneka yang dikoleksi di museum ini
adalah boneka-boneka yang berasal dari Eropa meskipun ada juga yang berasal
dari beberapa negara non-Eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam,
India dan Kolombia.
Sumber :